Saya Terbakar Amarah Sendirian! PDF/EPUB ✓ Saya

Saya Terbakar Amarah Sendirian! [Read] ➯ Saya Terbakar Amarah Sendirian! Author André Vltchek – Thomashillier.co.uk Lewat buku perbincangan dengan Pramoedya Ananta Toer ini, Andre Vitchek dan Rossie Indira menyampaikan kepada kita suara sastrawan Indonesia paling terkemuka, yang mengaku tidak akan menulis lagi , pe Lewat buku perbincangan dengan Pramoedya Ananta Toer ini, Andre Vitchek dan Rossie Indira menyampaikan kepada kita suara sastrawan Indonesia paling terkemuka, yang mengaku tidak akan menulis lagi , penulis novel Tetralogi Buru yang terkenal di dunia, dan seorang yang berdiri di puncak dunia sastra Indonesia Terekam di dalam buku ini pemikiran Pram, demikian dia biasa dipanggil, tentang Indonesia dan dunia serta kisah hidupnya yang menyentuh perasaanSebagaimana karya karya sastranya, di dalam buku ini Pram juga Saya Terbakar PDF or berusaha melibatkan pembacanya dalam pengalaman Indoensia sebagai bangsa Bukan itu saja Ketika bicara tentang penindasan historis, politis, dan tak manusiawi, dia bicara tanpa tedeng aling aling sebagai orang yang mengalami sendiri, berpendirian teguh, dan bersemangatkan kemanusiaan Karena itu, buku ini patut dibaca oleh semua kalangan yang ingin memahami akar akar persoalan di Indonesia dewasa ini Apa yang direkam di dalam buku ini adalah kelanjutan apa yang sudah ditulis oleh Pram di dalam buku bukunya sikap membangkang, menolak, menantang, tak kenal kompromi menyangkut kebebasan dan nalar, serta individualisme yang disebut dengan PramismeChris GoGwilt.


10 thoughts on “Saya Terbakar Amarah Sendirian!

  1. Endah Endah says:

    Ketika beberapa waktu lalu saya membaca soal pencalonan Pramoedya Ananta Toer di ajang Nobel bidang sastra, terbersit rasa bangga di hati sebagai orang Indonesia Bangga rasanya memiliki seorang sastrawan besar yang karya karyanya diperhitungkan di dunia internasional Walau pun belum berhasil memenangi penghargaan bergengsi tersebut, saya tetap saja merasa bangga pada Pak Tua itu Sesaat, rasanya sebagai bangsa, saya berdiri sama tinggi dengan bangsa bangsa lain di muka bumi, setelah selama i Ketika beberapa waktu lalu saya membaca soal pencalonan Pramoedya Ananta Toer di ajang Nobel bidang sastra, terbersit rasa bangga di hati sebagai orang Indonesia Bangga rasanya memiliki seorang sastrawan besar yang karya karyanya diperhitungkan di dunia internasional Walau pun belum berhasil memenangi penghargaan bergengsi tersebut, saya tetap saja merasa bangga pada Pak Tua itu Sesaat, rasanya sebagai bangsa, saya berdiri sama tinggi dengan bangsa bangsa lain di muka bumi, setelah selama ini terpaksa malu oleh prestasi negeri tercinta sebagai pemegang rangking satu negara terkorup Pernah suatu hari, kantor kami kedatangan tamu delegasi ekonomi Asia Pasifik Kebetulan, saya ikut mendampingi mereka melihat lihat kebun dan pabrik teh kami Di antara anggota delegasi tersebut, ada seorang perempuan anggun berambut kuning jerami, bermata hijau lembut, dari Cili Sambil menikmati teh, saya sempat bercakap cakap dengannya Tentulah akhirnya sampai ke topik Pablo Neruda Nyonya cantik ini terkejut dan tampak bangga sekali ada orang dari negeri lain, ribuan kilometer berjarak dari negerinya, mengenal Neruda, sastrawan kebanggaan negeri mereka Lalu, ia ganti membalasnya dengan menyebut Pram Kali ini, gantian saya yang bangga Begitulah Karya Pram yang pertama kali saya baca adalah Bumi Manusia Waktu itu saya masih duduk di kelas II SMP Saya tidak tahu kalau itu buku terlarang Dengan pemahaman seorang remaja 14 tahun, saya melahap buku tersebut dengan rakusnya dilanjut buku keduanya Anak Semua Bangsa Sedangkan dua judul lagi yang terakhir, Rumah Kaca dan Jejak Langkah, baru saya baca bertahun tahun kemudian, setelah novel tersebut beredar dengan bebas Sejak itu, saya mulai mengoleksi buku buku Pram, baik novel, kumpulan cerpen, drama, atau pun esai esainya, atau buku buku yang berkenaan dengan Pram Termasuk buku Saya Terbakar Amarah Sendirian Buku tipis ini memuat wawancara dua orang jurnalis, yaitu Andre Vltchek Amerika Serikat dan Rossie Indira Indonesia dengan Pram yang dilakukan selama empat bulan, dari Desember 2003 sampai dengan Maret 2004 Wawancara tersebut berlangsung di kediaman Pram di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur Dalam wawancara panjang ini, Pram menuturkan banyak hal yang sebelumnya hanya sedikit saja pernah diungkap media massa Selain karena menyangkut hal hal yang sensitif, juga karena alasan keamanan di bawah tekanan rezim Soeharto, nama yang banyak disebut Pram sebagai orang yang paling berperan dalam peristiwa penangkapan dirinya, 13 Oktober 1965, pasca huru hara politik yang menewaskan jutaan rakyat Indonesia dan jutaan lainnya lagi kehilangan kemerdekaannya ditahan di penjara penjara serta kamp kerja paksa Pulau Buru Pram, sebagaimana ribuan tapol 1965 lainnya, dipenjarakan di Pulau Buru tanpa melalui proses pengadilan selama bertahun tahun sampai saat pembebasannya, empat belas tahun kemudian Di kamp kerja paksa ini, di tengah tengah deraan siksaan aparat, lahirlah karya masterpiece nya yang memukau dunia sastra Tetralogi Buru Pram bicara banyak mengenai macam macam hal, dari mulai keluarga, kudeta 1965, Sukarno, Soeharto, masa masa selama dalam tahanan, revolusi, CIA, Jawanisme, sastra, sampai dengan soal Aceh dan Timor Leste Disampaikan dalam nada getir, marah, dan pedih Kepedihan itu terasa sekali kala ia mengisahkan tentang pemusnahan naskah naskahnya pada tahun 1965 oleh aparat tentara Naskah naskah tersebut semuanya ada delapan judul dibakar habis bersama dengan buku buku lain koleksi perpustakaan pribadinya Bagi seorang yang menggantungkan hidup dan cintanya pada menulis, pastilah amat menyakitkan kehilangan dokumen sepenting itu Lebih menyakitkan lagi, ia sama sekali tak memiliki kopinya, dan ia tak akan pernah bisa menulisnya ulang Oleh karenanya, ia tak bisa memaafkan tindakan tersebut sampai kapan pun Namun, yang paling terasa pedih buat saya, adalah saat Pram menyatakan bahwa dirinya tak mampu lagi menulis sejak stroke menyerangnya di tahun 2000 Kondisi fisiknya telah sangat lemah akibat usia sepuhnya Saya benar benar tidak bisa menulis lagi Saya tahu batas kemampuan saya dan saya sudah harus berhenti di sini Saya ingin berhenti bermimpi hlm.124 Dari wawancara ini, nyatalah betapa Pram bukan hanya sekadar sastrawan besar, tetapi juga seorang pemikir, nasionalis, humanis Alangkah kecewa dan marah dirinya, ketika menyaksikan negeri yang dicintai dan pernah diperjuangkannya ini perlahan lahan terjerumus ke dalam kehancuran di segala bidang hanya karena salah urus segelintir elit yang lebih mementingkan diri sendiri Untuk menyembuhkannya, ia meyakini, hanya ada satu cara revolusi total Dan hanya kaum mudalah yang mampu melakukannya Buku ini tersaji benar benar dalam bentuk tanya jawab seperti yang kerap kita lihat di koran koran dan majalah, di mana sang jurnalis bertanya dan nara sumber menjawab Kalau saja bukan Pram subjeknya, barangkali akan jadi amat membosankan membaca buku ini Jelas, Pramlah magnetnya Tak pelak lagi, rekaman wawancara ini semakin menambah kekaguman dan rasa hormat saya pada Pram Saya jadi ikut ikutan terbakar , oleh amarah dan juga semangatnya Dan kita tahu, seorang seperti Pramoedya Ananta Toer tak kan pernah dilahirkan dua kali


  2. mahatmanto mahatmanto says:

    buku ini adalah wawancara yang kesekian dari yang pernah ada bersama pramoedya isinya hanyalah perulangan yang dapat dijumpai di wawancara yang lain juga tapi, apa pun dokumentasi tentang orang yang telanjur besar seperti pramoedya ini perlu dikerjakan pernyataan pernyataannya yang lebih eksplisit tentang agama dan jawanisme tergolong baru buat saya maksud saya, belum pernah saya jumpai di tempat lain.termasuk dari jawanisme yang dibencinya adalah perilaku mengemis dari orang jawa pasca maja buku ini adalah wawancara yang kesekian dari yang pernah ada bersama pramoedya isinya hanyalah perulangan yang dapat dijumpai di wawancara yang lain juga tapi, apa pun dokumentasi tentang orang yang telanjur besar seperti pramoedya ini perlu dikerjakan pernyataan pernyataannya yang lebih eksplisit tentang agama dan jawanisme tergolong baru buat saya maksud saya, belum pernah saya jumpai di tempat lain.termasuk dari jawanisme yang dibencinya adalah perilaku mengemis dari orang jawa pasca majapahit untuk perkara ini aku juga pernah dikeroyok para pecinta budaya jawa di milis jawa karena aku menyatakan bahwa bangsa jawa dibandingkan bangsa lain di nusantara paling tidak kenal rasa malu untuk meminta minta bukankah kata ngemis itu sendiri adalah kata jawa kata yang konon muncul pada akhir abad XIX ketika susuhunan surakarta pakoeboewana X menyiptakan kebiasaan memberi sedhekah kepada rakyat tiap hari kamis, hari lahir beliau jawa yang dibayangkan oleh pramoedya bukanlah jawa yang semerosot itu sebaliknya adalah jawa yang punya harga diri, ketika arus peradaban di nusantara masih mengalir dari selatan ke utara bukan seperti sekarang ini dari utara ke selatan.arus sudah berbalik


  3. Pera Pera says:

    Membaca buku ini jadi ikutan marah beberapa item yang menggigit di buku ini 1 Pram hidup dari menulis, untuk menulis dan benar benar di hidupkan dari tulisan2nya.2.Jangan pernah jadi peminta bahkan pada tuhan.3 Agama hanya mengajarkan mengemis.4 Indonesia tercinta ini adalah negeri yang kehilangan karakterbiang keladinya adalah jawanisme taat dan setia buta pada atasan 5 Negeri ini hanya kenal satu saja hiburan, terutama perjuangan kearah tempat tidur dan peternakan diri.4 Par Membaca buku ini jadi ikutan marah beberapa item yang menggigit di buku ini 1 Pram hidup dari menulis, untuk menulis dan benar benar di hidupkan dari tulisan2nya.2.Jangan pernah jadi peminta bahkan pada tuhan.3 Agama hanya mengajarkan mengemis.4 Indonesia tercinta ini adalah negeri yang kehilangan karakterbiang keladinya adalah jawanisme taat dan setia buta pada atasan 5 Negeri ini hanya kenal satu saja hiburan, terutama perjuangan kearah tempat tidur dan peternakan diri.4 Para pemimpin Indonesia tak punya prestasi individual, bisanya mengandalkan kelompok, persis main bola kaki keroyokansatu satunya yang kita miliki cuma Sukarno Yang lain cuma lucu lucuan.dllringkas pedastapi membuka mata


  4. Erin Erin says:

    This book was slightly depressing Pram sees absolutely no hope for his country and believes that Indonesia has no cultural identity I do not necessarily agree with his beliefs but understand his argument During Suharto s reign, millions of Indonesia s teachers, artists and intellectuals were murdered or imprisoned Trade was also highly encouraged, resulting in the westernization of Indonesia Now, Toer says, Indonesia is only a consumer society Nobody creates things any Even rice is im This book was slightly depressing Pram sees absolutely no hope for his country and believes that Indonesia has no cultural identity I do not necessarily agree with his beliefs but understand his argument During Suharto s reign, millions of Indonesia s teachers, artists and intellectuals were murdered or imprisoned Trade was also highly encouraged, resulting in the westernization of Indonesia Now, Toer says, Indonesia is only a consumer society Nobody creates things any Even rice is imported which is totally ridiculous Do not read this book if you want to learn about Indonesian culture there are other books for that and this one will only depress you But it does present a bleak yet straightforward view of Indonesia s past and present condition


  5. Azia Azia says:

    perkenalan saya dengan pramoedya termasuk telatsaya lebih tahu enid blyton daripada bung pram..dan baru kemarin baca buku tanya jawabnya dengan Andre viltec dan Rossie Indira.novel novelnya yang telah membuatnya terkenal, belum satupun saya pernah baca


  6. De Ballad De Ballad says:

    Cukup sulit bagi saya untuk memberikan rate lima bintang untuk sebuah buku, tapi untuk buku yang berisi wawancara dengan Pramoedya Ananta Toer ini rasanya tidak perlu ragu lagi Saya kerap kali membayangkan bahwa isi buku itu ada dalam bentuk video yang bisa saya download dari YouTube atau situs yang lain Pasti akan saya putar berulang ulang Ini kalau tidak salah buku pertama tentang Pramoedya yang saya baca Saya bilang kalau tidak salah karena sayapun tak ingat apakah sebelumnya saya perna Cukup sulit bagi saya untuk memberikan rate lima bintang untuk sebuah buku, tapi untuk buku yang berisi wawancara dengan Pramoedya Ananta Toer ini rasanya tidak perlu ragu lagi Saya kerap kali membayangkan bahwa isi buku itu ada dalam bentuk video yang bisa saya download dari YouTube atau situs yang lain Pasti akan saya putar berulang ulang Ini kalau tidak salah buku pertama tentang Pramoedya yang saya baca Saya bilang kalau tidak salah karena sayapun tak ingat apakah sebelumnya saya pernah membaca novelnya Kecenderungan saya membaca buku tidak sampai tamat dan berganti buku lain masih belum bisa disembuhkan Yang jelas, saya kagum dengan sastrawan yang satu ini Menghabiskan waktu dengan menulis, melihat karya karyanya dibabat habis, menyaksikan rezim yang sangat tidak mengenal perikemanusiaan dan menyaksikan betapa manusia di jaman modern ini, terutama anak muda, sangat jarang yang peduli dengan semua itu.Dalam buku ini saya menemukan begitu banyak hal tentang Pramoedya, baik pemikirannya, kisah hidupnya, dll Ia tak segan bicara tentang wajah negeri ini yang sudah sedemikian luluh lantaknya Ibarat disiram air keras Namun orang orang tetap saja berupaya memakai topeng untuk menutupi kenyataan Entah karena takut, malu atau memang hendak membohongi diri sendiri Menyedihkan.Semoga buku ini kelak dibaca oleh lebih banyak lagi anak muda, agar mereka tau bahwa ada seorang pemikir dengan nasionalisme tinggi yang punya ide ide brilliant untuk mengubah Indonesia, dan seorang pemikir itu menunggu mereka untuk mewujudkan cita citanya Pram telah tiada, tapi karyanya akan selalu hidup di hati dan jiwa pembaca


  7. nia pranatio nia pranatio says:

    To know painTo gain self define victoryTo know silent anger


  8. Erri Kartika Erri Kartika says:

    Apakah kalian pernah merasa berdialog dengan seseorang tapi tidak ada yang pernah mengerti pemikiran kita Seperti itu lah jiwa Pramoedya Ananta Toer pada masa tuanya Penulis besar Indonesia yang pernah menerbitkan buku Gadis Pantai dan Tetralogi Buru ini tenggelam dalam amarah sendirian, meratapi nasib bangsa yang mulai kehilangan jati dirinya.Sebagai salah satu penulis besar yang pernah dimiliki Indonesia, Pram panggilan dari Pramudya Ananta Toer menyimpan amarah sendiri yang dituangkan dalam Apakah kalian pernah merasa berdialog dengan seseorang tapi tidak ada yang pernah mengerti pemikiran kita Seperti itu lah jiwa Pramoedya Ananta Toer pada masa tuanya Penulis besar Indonesia yang pernah menerbitkan buku Gadis Pantai dan Tetralogi Buru ini tenggelam dalam amarah sendirian, meratapi nasib bangsa yang mulai kehilangan jati dirinya.Sebagai salah satu penulis besar yang pernah dimiliki Indonesia, Pram panggilan dari Pramudya Ananta Toer menyimpan amarah sendiri yang dituangkan dalam dialog dengan Andre Vltchek dan Rossi Indira dalam buku Saya Terbakar Amarah Sendirian Sampai saat buku ini diterbitkan pada tahun 2006 Pram sudah tidak lagi menulis Dia mempunyai dendam yang membara terhadap rezim Soeharto yang membakar semua perpustakaan dan beberapa tulisannya yang belum pernah terpublikasikan dan tidak mungkin lagi ditulis lagi Dia memandang betapa rendahnya budaya Indonesia pada masa itu yang membakar buku buku menggambarkan budaya yang bar bar dan sama sekali tidak intelektual.Pram menggambarkan terasing di Negeri sendiri karena Bangsa Indonesia sama sekali tidak mengenal bangsa Internasional dan bangsa Internasional sama sekali tidak mengenal Indonesia Indonesia seperti Invisible country.Tidak ada yang pernah mengerti pemikiran Pram yang sinis terhadap pemerintahan Dia menolak rezim Jawanisme yang marak di pemerintahan rezim Soeharto bahkan sampai sekarang bagaimana budaya jawa yang sangat patuh kepada atasan sangat menggerogoti mental pemerintahan Indonesia Orang Jawa selalu digambarkan dengan orang yang malas dan bermetal pengemis Dengan gagalnya pendidikan di era orde baru yang melahirkan generasi yang sulit perpendapat, tidak berproduktif dan bermental kuli maka Indonesia berada di masa hanya mengekspor tenaga kuli ke berbagai negara.Lepas reformasi keadaan tidak jauh berubah, bahkan dibilang lebih buruk Bagaimana individual individual menggerogoti keuangan negara Korupsi milyaran rupiah hilang tanpa bekas Menyisakan Soeharto Soeharto kecil di berbagai aspek pemerintahan Indonesia berada di masa terpuruk bahkan membusuk Warga negara sudah tidak punya jati diri, tidak ada Nation dan Building Character yang pernah dicita citakan oleh Soekarno Kita hanya menjadi bangsa pengemis Warga negara yang tidak pernah belajar berproduksi dan hanya tau berkonsumsi akan berkorupsi di segala aspek Maka tak heran kita akan menemukan para koruptor di segala bidang Dari Tukang Parkir sampai Pemimpin Negeri.Membaca Pramoedya Ananta Toer seperti membaca Indonesia sebagai negeri yang sakit Yang paling menyedihkan adalah banyak orang yang tidak menyadari kita berada di masa yang sakit dan diperparah dengan membusuknya moral moral kita sebagai warga negara Di Usia yang hampir 80 tahun saat buku itu dibuat Pram sudah kehilangan semangatnya menulis, jika mengingat sedihnya dia dipenjara dan disiksa saat dibuang di Pulau Buru dan menyaksikan bagaimana Negara pelan pelan membuat kuburannya sendiri, Pram seperti dibakar amarah sendirian Dia merasa sakit, sesakit bangsa ini


  9. nanto nanto says:

    Sebuah kesakitan dari seorang pejuang yang seluruh hidupnya adalah perlawanan Kekerasannya dalam berkata kata adalah cerita panjang hidupnya yang selalu bersikap Beberapa bagian saya baca secara cepat tanpa banyak berpikir, karena memikirkannya saja buat saya begitu berat.Ledakan amarah Pram sangat terasa, terutama ketika ia bercerita sakitnya mengingat naskah naskah yang dikerjakannya sedemikian tekun hancur oleh sebuah budaya rendah Pembakaran itu dan pembantaian manusia pada tragedi 65 mer Sebuah kesakitan dari seorang pejuang yang seluruh hidupnya adalah perlawanan Kekerasannya dalam berkata kata adalah cerita panjang hidupnya yang selalu bersikap Beberapa bagian saya baca secara cepat tanpa banyak berpikir, karena memikirkannya saja buat saya begitu berat.Ledakan amarah Pram sangat terasa, terutama ketika ia bercerita sakitnya mengingat naskah naskah yang dikerjakannya sedemikian tekun hancur oleh sebuah budaya rendah Pembakaran itu dan pembantaian manusia pada tragedi 65 merupakan sisi emosional yang di usia lanjutnya Pram menjadi terasing di tengah bangsanya sendiri Ya, saya hidup di dunia saya sendiri Di luar itu yang ada hanya korupsi Satu satunya pemimpin, Soekarno, sudah tidak ada lagi Inilah balasan Indonesia pada saya Negara yang dulu saya perjuangkan sekarang dalam proses pembusukan, jadi bagaimana saya tidak marah Sangat bertolak belakang dengan negara yang kami cita citakan dahulu Hari hari ini semakin banyak memori yang kembali Kebanyakan teman saya sudah tidak ada lagi Saya teringat akan dua juta orang yang dibunuh dan sungai sungai penuh dengan mayat sehingga airnya menjadi merah karena darah Bagaimana orang bisa membunuh sesamanya seperti itu Saya tidak bisa bicara lagi soal hal ini Terlalu emosional bagi saya.Sejarah bangsa ini ternyata memiliki sisi buram di mata seorang pejuangnya sendiri.Wawancara yang ditulis dalam buku ini memang menjadi semacam katarsis buat pram Sebuah ledakan buat orang yang dibekam sakit sedemikian menahun Saya tidak bilang pram benar dengan kata katanya, tapi saya lebih tidak ingin menghakimi Saya hanya ingin hanya mendengar, bagaimana sejarah bisa menjadi cermin buram di mata seorang pelakunya sendiri.to know his tory is to know the pain of his nation update 21 Jan 09 dua review pendek di goodreads begitu menyentil.yang pertama menuliskan dalam tiga baris kata yang nendang, To know painTo gain self define victoryTo know silent angerreview kedua, sebaris saja, tapi tak kalah nendang, i dont wanna be an indonesian idiot duh, jadi pengen teriak dengan lagunya Green Day..cari ndiri teksnya yah D


  10. Henry Wijaya Henry Wijaya says:

    The conversation with arguably the best Indonesian writer is a relevant critique for today s Indonesia Reading Pram s answers, the reader can see that Pram was still as sharp as ever regardless of his, then, incapability to write anything any His voice resounds a critical and rebellious mind that refuses to sleep or to be put into silence In his internal exile distancing himself from the current Indonesia that disappointed him, Pram managed to pinpoint the roots of Indonesia s decadence The conversation with arguably the best Indonesian writer is a relevant critique for today s Indonesia Reading Pram s answers, the reader can see that Pram was still as sharp as ever regardless of his, then, incapability to write anything any His voice resounds a critical and rebellious mind that refuses to sleep or to be put into silence In his internal exile distancing himself from the current Indonesia that disappointed him, Pram managed to pinpoint the roots of Indonesia s decadence and criticize what has been happening since the 1965 tragedy Pram shows terrible things that many Indonesians these days fail to see from Soeharto s reign More than the economic disasters that he passed on to the following administrations, Soeharto, through his oppression instigated the absence of national pride, courage, honesty, and critical thinking Thus, after 32 years, we are now faced with a generation who have no comprehension about their own culture easily swayed by foreign culture, who are afraid to express their minds, who maintain corrupt mindset, and who possess inability to argue.Pram s words are a harsh slap on the face for us, Indonesians, to wake up and challenge what he called as Javanism Javanese Fascism a blind unthinking obedience and loyalty to superiors Pram demanded us to stop glorifying all that we consider noble, such as our Indonesian culture, while in fact they are just empty glories from the past Instead, he wanted us, the young Indonesian generations, to start anew he urged us to start a revolution that overthrow the irreparable status quo In personal level, Pram told us not to just consume, but to produce something.This book is a must read for those who are interested to understand further what happened during the 1965 tragedy, to feel the sufferings that the victims experienced, and to learn different steps that we have to courageously take in the future


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *